Jembatan? Kamu niscaya sudah tidak aneh lagi mendengarnya, mungkin kamu tiap hari melalui jembatan untuk ke sekolah ataupun melakukan pekerjaan , ya jembatan yaitu suatu struktur yang fungsinya untuk menyeberangi sungai, jurang, rel kereta, jalan raya dan masih banyak lagi. Keberadaan jembatan sungguh penting bagi kehidupan kita sehari-hari, banyak tempat yang terisolir jika jembatan yang digunakan untuk akses ke kawasan tersebut putus atau roboh baik sebab musibah atau gagal konstruksi, kamu tau 5 jembatan tertua di indonesia? jika belum tau baca artikel ini sampai habis!
Jembatan Kelok 9

Pembuatannya dilaksanakan antara tahun 1908 hingga 1914 oleh pemerintah Hindia Belanda kurun itu. Lebarnya meraih 300 meter dan memiliki lebar 5 meter. Hebatnya lagi jembatan ini berada di atas ketinggian 80 meter. Letaknya sendiri berada di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat dan akan menuju provinsi Riau kalau akan melewati jembatan ini.
Penamaan kelok 9 dikarenakan jembatan ini berkelok layaknya angka sembilan. Karena letaknya yang berada di antara dua bukit, membuat jembatan ini yaitu jembatan tercantik tetapi paling menyeramkan yang ada di Indonesia. Bahkan telah berumur 108 tahun dari periode awal pembuatannya.
Jembatan Merah

Belum dimengerti secara rinci tahun berapakah jembatan merah mulai dibangun. Namun salah satu sumber mengatakan pembuatannya kira-kira sekitar tahun 1880an pada zaman VOC menguasai kota Surabaya. Jembatan bersejarah ini berada di Surabaya, Jawa Timur bahkan menjadi salah satu judul lagu ‘Gesang’.
Pada tahun 1890an, jembatan ini mulai direnovasi, dari mulanya pagar pembatasnya berupa kayu, ketika itu diubah menjadi besi semoga lebih berpengaruh. Fungsi awal jembatan penghubung Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun ialah alat penghubung antar penduduk untuk berniaga. Bahkan menjadi pusat perniagaan di Kota Surabaya.
Jembatan Parhitean

Dikatakan bahwa jembatan ini ialah jembatan tertua di Sumatera Utara sebab sudah dibangun semenjak 1936 dan simpulan pada 1949. Namun acara peresmiannya baru dikerjakan setahun sehabis itu yaitu pada 1950 oleh wakil Presiden Soekarno, Muhammad Hatta bersama dengan TM Hassan (Gubernur Sumatera).
Jembatan bersejarah ini sangat penting bagi warga, mengenang tidak ada jalur lain selain menggunakan jembatan ini untuk menyebrang. Apalagi dibawahnya terdapat sungai Asahan yang memiliki arus deras. Walaupun begitu, sekarang bangunan ini masih tetap kokoh terlebih pagarnya dibuat memakai cor beton.
Letaknya sendiri berada di Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Asahan. Bangunan ini sekarang menjadi alat penghubung desa Parhitean, Kecamatan Meranti Timur dengan Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan. Sekali-kali jembatan ini bisa kalian kunjungi untuk menyaksikan indahnya alam di sekitarnya atau melakukan arum air terjun di sungai Asahan.
Jembatan Kediri

Jembatan ini berada di atas sungai Brantas Kota Kediri yang telah tegak bangkit selama 148 tahun. Peresmiannya yaitu pada tanggal 18 Maret 1869 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan menjadikannya sebagai jembatan jalan raya atau istilahnya ketika itu Groote Postweg. Sehingga dibilang bahwa jembatan besi ini yakni yang pertama di Pulau Jawa.
Menurut data dari buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek yang didapatkan pribadi dari Belanda, Insinyur pengerjaan jembatan ini yaitu Sytze Westerbaan Muurling. Pada era itu, jembatan ini sangatlah penting bagi masyarakat. Mengingat hanya jembatan inilah yang menghubungkan kota barat dengan timur Kediri plus kota Madiun dengan Surabaya.
Karena terdapat jembatan gres di sampingnya, maka nama jembatan kediri sekarang lebih populer dengan jembatan usang kediri untuk membeeakan yang ada di sampingnya.
Jembatan Singkarang (Lolong)

Di desa Lolong, Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah terdapat jembatan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda. Jembatan itu yaitu Jembatan Singkarang yang hingga sekarang masih berfungsi dengan baik. Bentuknya juga unik, ialah melengkung dengan total panjangnya mencapai 40 meter dan lebar 3 meter.
Jembatan yang berada di atas sungai Singkarang ini bahkan berada di atas ketinggian 50 meter dari permukaan sungai yang menjadikannya terlihat indah. Apalagi di sekelilingnya terdapat hutan yang masih asri dan sungai yang selalu jernih saat kemarau. Usia telah bau tanah adalah sekitar 105 tahun karena dibuat pada tahun 1912 oleh Belanda.
Namun pembangunannya menyimpan sejuta musibah bagi masyarakat sekitar. Bagaimana tidak, pada abad pembuatannya warga harus membuatnya dengan kerja paksa. Jika tidak mampu-bisa mereka dibunuh. Bahkan kepala desa dikala itu, Madrawi ditembak mati supaya orang-orang takut dan bersedia membangunnya.
Jembatan Panus

Di tempat Jabodetabek tepatnya di Depok terdapat jembatan peninggalan Kolonial Belanda. Pembangunannya dirancang oleh Stefanus Leander ketika tahun 1917 dan dalam waktu satu tahun sudah diselesaikan dan siap untuk dioperasikan. Kalai itu jembatan ini menjadi area untuk mengakses rute antara Depok dan Bogor, begitu juga dengan Jakarta.
Selain selaku alat penghubung antar kawasan, jembatan ini juga difungsikan menjadi alat pemantau debit air dari sungai yang ada di bawahnya yaitu Sungai Ciliwung. Hal ini dapat dilihat dari tanda yang ada di salah satu penyangganya yang mempunyai ukuran untuk menyaksikan tinggi rendahnya air yang mengalir.
Namun dikarenakan telah dibuat jembatan bayangan di sampingnya maka menciptakan jembatan Panus jarang dilewati oleh pengendara. Jembatan gres itu didirikan tahun 1990 dan sekarang jembatan Panus dijadikan sebagai Tempat rekreasi karena memiliki sejarah.
Jembatan Petekan

Salah satu jembatan angkat tertua di Indonesia ternyata ada di Surabaya, Jembatan Petekan yakni namanya. Dibuat mulai tahun 1990-an oleh V Braat and Co. Awalnya bentuknya yaitu jembatan angkat sebab saat itu sungai Kalimas yang ada di bawahnya menjadi salah satu jalur transportasi kapal yang ada di tempat Surabaya, Madura, bahkan Jawa Timur. Makara ketika ada kapal melalui, jembatan akan diangkat agar kapal mampu melintasinya.
Nama aslin dari jembatan ini bahu-membahu yaitu Ophaalbrug, namun penduduk menamainya dengan Petekan. Pengambilan nama itu karena bahasa Indonesia dari ‘tekan’ yakni ‘petek’. Mengingat jembatan ini harus apalagi dahulu ditekan tombolnya supaya jembatan bisa naik, maka orang-orang familiar menyebutnya dengan petekan.
Namun sekarang jembatan ini sudah tidak lagi difungsikan selaku jembatan angkat alasannya adalah telah tidak ada lagi kapal besar yang melintas. Sungai kalimas yang dulu dipakai kapal besar kini sudah mengalami pendangkalan.
